Kisah W, Wanita dan Polemik Kebebasan
Bicara mengenai sekat-sekat antara lelaki dan wanita memang tiada
habisnya. Di era yang penuh emansipasi wanita, menggerakkan kaum milenial
khususnya perempuan turut menjunjung kesetaraan dan berpikir terbuka. Perlu diakui
bahwa wanita memang hebat dalam segala hal di zaman now, semakin banyaknya wanita-wanita yang berpendidikan tinggi dan
berpeluang menduduki jabatan-jabatan penting baik dalam sektor pemerintah
maupun swasta, maka melahirkan sinar-sinar baru keemasan wanita yang beragam
dan istimewa.
Bila sudah menyangkut pencapaian wanita, mengingatkan akan kisah-kisah
wanita di luar sana yang belum bisa sepenuhnya merasakan kebebasan. Kebebasan
berekspresi, kebebasan bersikap, hingga kebebasan bertindak tanpa tekanan
sekalipun. Menjadi wanita karier yang sudah berkeluarga sangat diidamkan oleh
perempuan saat ini, namun siapa sangka bahwa tidak selamanya kesempatan
tersebut disepakati bersama oleh pasangan. Melainkan sebaliknya, mengakibatkan
wanita menjadi serba salah dalam berperan.
Kisah wanita berinisial W pernah mengalami masa sulit dalam berperan sebagai isteri dan ibu bagi anak-anaknya. Selaku perempuan yang menerima ajakan kekasih untuk menikah di usianya yang remaja, tidak dapat dipungkiri masih tersirat harapan W untuk menikmati masa-masa mengenyam pendidikan tinggi dan bekerja. Ketika usia pernikahannya menginjak tahun kelima, kondisi finansial rumah tangganya sedang memburuk. Di tambah lagi W yang usai melahirkan putri kedua, membutuhkan banyak biaya untuk kebutuhan kedua anaknya.
Mengetahui keadaan tersebut, W tidak ingin membiarkan pasangannya
mencari uang sendirian. Ia berniat mencari pekerjaan agar bisa membantu suami
mencukupi kebutuhan rumah tangga. Akan tetapi, W mendapat penolakan dari
pasangannya yang memerintah untuk tetap di rumah dan mengurus anak-anak.
Akhirnya W melaksanakan apa yang diperintah suaminya yakni tetap di rumah
sebagai ibu rumah tangga karena suaminya sudah berjanji akan berusaha menafkahi
keluarga dengan jerih payahnya sendiri.
Sebulan kemudian, tidak begitu banyak perubahan yang terjadi dalam ekonomi rumah tangganya. Penghasilan yang pas-pasan membuat suaminya sering marah-marah di rumah. Tidak jarang W menjadi luapan emosi sang suami yang lelah bekerja namun tidak kunjung tercukupi kebutuhan dalam rumah tangga. Jangankan untuk biaya sekolah putri pertamanya, untuk membeli susu bayi pun mulai menipis dan mau tidak mau harus hutang terhadap tetangga. Terus terang hal demikian membuat W prihatin dan ingin bertindak sesuatu.
Dengan tekad kuat, sosok wanita itu melamar pekerjaan menjadi buruh cuci
di perumahan dekat tempat tinggalnya tanpa sepengetahuan suami. Ia berangkat ke
rumah majikan pada saat suaminya juga bekerja di luar rumah. Putri pertama yang
sudah mampu menjaga adiknya membuat tenang ibunya, tidak perlu khawatir
meninggalkan buah hati ketika bekerja. Dua bulan berikutnya, kebutuhan rumah
tangga mulai tercukupi dan memiliki uang lebih untuk ditabung. Keadaan di rumah semakin membaik seiring
berputarnya waktu.
Awalnya sang suami berpikir isterinya yang sudah bijak mengatur keuangan
hingga tidak kekurangan sedikitpun. Namun, pasangan mulai curiga jika W
memiliki uang lebih yang bukan dari hasil pendapatannya. Benar saja, ia tahu
bahwa faktanya sang isteri bekerja sebagai buruh cuci secara diam-diam di
belakangnya. Merasa dibohongi, sang suami marah besar kepada W. Tanpa disadari,
W mengalami kekerasan dalam rumah tangga oleh suami. Merasa lemah dan tidak
berdaya, yang dilakukan hanya menangis di depan kedua putrinya.
Anehnya, keesokan hari, dia menyuruh isterinya untuk segera berangkat
bekerja. Padahal, baru saja kemarin pasangannya mengamuk hebat karena dirinya
menjadi wanita karier. Di sisi lain, W bersyukur sebab diizinkan untuk turut
mencari tambahan penghasilan dalam keluarga. Sepulang dari bekerja, lelaki
tersebut kembali mengamuk dengan alasan yang berbeda. Dia tidak suka jika
isterinya pulang bekerja lebih lama dari dirinya lantaran keadaan di rumah yang
berantakan dan kedua putrinya yang menangis malang usai ditinggal seharian.
W merasa serba salah, apapun yang ia perbuat selalu salah di mata
pasangannya seolah hanya dia yang benar dan tidak dapat dibantah. Melihat
problematika ini, masih banyak wanita yang menderita dan tidak bisa berperan
sesuai yang diinginkan. Andaikata sudah berkeluarga, semestinya diutarakan
baik-baik jika terjadi perselisihan pandangan. Menyelesaikan sebuah persoalan
dengan kekerasan, hanya akan menambah masalah baru. Jelas saja, tubuh W semakin
membiru disebabkan setiap pulang kerja selalu mendapat pukulan dari keganasan
suami.
Masih banyak wanita-wanita di luar sana yang mengalami hal serupa bahkan
bisa lebih buruk dari kisah ini. Bagaimana pola pikir mu menanggapi ini? Apa
yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi putri dari wanita tersebut? Tunggu
kelanjutan kisahnya, mari bercengkrama, mengatasi polemik gender wanita yang
tak kunjung usai.


Commentaires
Enregistrer un commentaire