Bina Persatuan melalui Permainan Konvensional



Memasuki usia ke-74, menandakan Indonesia cukup gigih menghadapi lika-liku kehidupan sebagai suatu negara. Sejauh ini, Indonesia mampu beradaptasi akan perkembangan teknologi, terbukti dengan banyaknya akses digital elektronik yang digunakan oleh masyarakat. Seperti yang sudah diketahui bahwa anak-anak hingga remaja lebih dominan dalam penggunaan teknologi khususnya gadget. Meskipun gadget dapat memberi pengaruh positif, namun juga memiliki dampak yang negatif. Adapun keuntungan gadget di antaranya memudahkan pekerjaan di berbagai bidang, misal edukasi, ekonomi, politik, bahkan dunia hiburan.
Dunia hiburan yang merupakan pelipur rasa jenuh adalah salah satu bidang yang sering dikunjungi konsumen. Hiburan berupa gim dapat mengakibatkan individu dari berbagai kalangan menjadi diam tak berkutik karena terlena dengan permainan modern tersebut. Ironisnya, berdasarkan data hasil penelitian tahun 2014 menyatakan bahwa rata-rata pemilik akun gim merupakan anak-anak yang usianya berkisar 5-10 tahun. Padahal usia tersebut termasuk usia emas untuk mengenal lingkungan sekitar, menikmati indahnya kebersamaan terhadap teman sebaya, dan bergerak aktif melatih kemampuan fisik.   
Bila perkara ini dibiarkan berlangsung begitu lama, maka Indonesia akan mulai dikenal dengan rakyat individualisnya, bukan lagi bangsa yang terkenal akan ramah tamah, sikap gotong royong, dan jiwa kebersamaannya di kancah internasional. Di samping itu, yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya minat anak zaman now untuk mengenal permainan konvensional sebagai warisan budaya bangsa. Jika sudah tidak ada hasrat untuk menggemari permainan tradisional, bagaimana bisa generasi penerus bangsa mencintai tanah airnya sendiri, tanpa mengetahui segala hal tentang Indonesia yang patut dibanggakan dan menjadi identitas bangsa? Oleh karena itu, diperlukan peran dari banyak pihak untuk melestarikannya.
Sebagai pelaksana roda kedaulatan, pemerintah telah bertindak melakukan sesuatu dalam menangani krisis nasionalisme ini. Contohnya pada saat memperingati Hari Jadi Kota Asahan tepatnya tanggal 20 maret, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan, Sumatra Utara menggelar beragam kegiatan lomba permainan tradisional. Beberapa pertandingan yang dilombakan antara lain, permainan patok lele, egrang, pecah piring, gerobak sodor, engklek, dan terompah untuk putra dan putri. 
Tidak hanya pemerintah, namun para aktivis muda bahkan beberapa perusahaan turut andil menggalakkan pelestarian budaya berupa permainan klasik tersebut di daerah-daerah yang memang dibutuhkan konservasi lebih lanjut perihal minimnya kebanggaan kepada budaya nasional. baru-baru ini di Lapangan Denggung, Sleman, Yogyakarta, sebuah kompetisi bertajuk 'Fit Olympic' melombakan aneka permainan tradisonal seperti bola gebok, gobak sodor, dan balap karung estafet. Kompetisi ini merupakan salah satu aksi dari beberapa pihak yang peduli terhadap permainan tradisional yang mulai bergeser atau dilupakan.
Akan tetapi, meskipun lomba-lomba tersebut tengah dilaksanakan, pemerintah tetap mengharap kesadaran diri dari masyarakat sebagai warga negara Indonesia untuk berperan sepenuh hati membina persatuan Indonesia, salah satunya dengan mempertahankan budaya bangsa. Dengan demikian, negara akan semakin mudah bergerak menuju Indonesia maju dan unggul

Commentaires

Enregistrer un commentaire

Posts les plus consultés de ce blog

Pantai Parangtritis Kembali Bersih

TANGGAP WACANA MENGETI DINTEN PAHLAWAN 10 NOPEMBER

Cara Membuat Paspor Baru di Era New Normal