Fantastis! Pemuda Ini Sukses Menyandang Gelar Master di UK & Gelar Doktor di Malaysia dengan Beasiswa
Dewasa
ini, dunia pendidikan semakin fenomenal seiring mengalirnya globalisasi. Pada
hari Minggu tepatnya tanggal 24 Febuari, saya menghadiri acara bulanan
komunitas yakni Gerakan Tunas Bangsa.
Hal yang menarik dari acara bulan ini adalah mengangkat topik “Beasiswa dan
Universitas.” Panitia dalam acara ini berhasil mengundang narasumber dengan
prestasi yang sangat mengagumkan bagi saya. Bagaimana tidak? Seorang pria dari
keluarga di luar kata mampu dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara di
Yogyakarta sukses menyandang gelar master di United Kingdom dan gelar doktor di
Malaysia dengan beasiswa. Wow!
Spektakuler!
Beliau bernama Galih Adyotomo.
Dengan kegigihannya, beliau berhasil meraih beasiswa penuh yang dicobanya
ke-19. Rupanya kegagalannya apply beasiswa hingga 18 kali tidak
menyurutkan tekadnya kuliah di luar negeri. Caranya pun ketika bangkit dari
kegagalan cukup simpel, hanya mengingat orang tua. Bagaimana cara membanggakan
orang tua? Apapun itu demi orang tua, niscaya semangat aamiinn…
Oke, saya tidak akan menulis tentang
beliau secara dominan. Melainkan berbagi pengalaman saya setelah menyimak kisah perjuangan beliau. Bayangkan!
Kuliah abroad, guys… siapa yang tidak
ingin? 99,9% pemuda Indonesia begitu menginginkannya, namun yang berusaha
untuk mewujudkan hanya berkisar 0,01%. Duh! berbanding terbalik ya… makanya back
to topic :v Kak Galih pernah SMP
jalur akselerasi, lho! Lalu melanjutkan ke SMK dan mengambil akuntansi karena
pilihan orang tua. Sebenarnya ia sangat ingin memilih jurusan farmasi tetapi
terkendala masalah ridho. Nah, karena tempat tinggal beliau dekat dengan Bandara
Adi Sucipto, maka melihat pesawat lalu-lalang sudah menjadi makanan
sehari-harinya. Itulah yang membuat pemuda tersebut bermimpi ingin naik
pesawat.
Sesuatu
yang tak terduga telah terjadi kala ia kelas XI. Kak Galih dipilih pihak
sekolah untuk mengikuti student exchange di Kanada karena menguasai
gamelan. Menakjubkan! Saya baru tahu, ternyata ketertarikan warga asing terhadap
kebudayaan Indonesia sampai dijadikan kriteria khusus dalam dunia pendidikan
seperti program ini salah satunya dan program beasiswa *Kalo gitu pas kuliah
mau ambil UKM yang berbau budaya deh biar terbukti if I really love
Indonesia’s cultures … J
Kesulitan
menghampiri beliau, dirinya sangat benci bahasa inggris. But wily nily
ia terpaksa belajar bahasa inggris dalam kurun waktu dua bulan.
Berangkatlklah ia dengan menaiki
pesawat. Akhirnya terealisasikan mimpi naik pesawatnya J
Pelajaran yang dapat kita petik à
“Bermimpilah setinggi angkasa & jatuhlah di antara langit dan
bintang-bintang.” So beautiful!
Pendidikan di Kanada membuat pemuda
tersebut kagum tetapi tidak melupakan rasa miris di dalamnya. Lho, mengapa? Do
you know? Semboyan “Tut Wuri Handayani” milik Sosok Ki Hajar Dewantara
sangat dihormati di Kanada dan Finlandia. Bahkan mereka juga menerapkan
semboyan tersebut dalam sistem pendidikan mereka. Sedangkan di Indonesia
sendiri saja, semboyan tersebut hanya dijadikan hiasan yang biasanya terletak
di dasi dan topi pada waktu upacara.
Fakta berikutnya, teman-teman beliau
di Kanada sempat heran mengapa terdapat banyak mata pelajaran di Indonesia?
Padahal rapor di negara asal Justin Bieber ini hanya berisi lima mata pelajaran
meliputi tiga mapel wajib dan dua mapel peminatan, tentunya pembelajaran
dimulai dari jam 08.00-12.00. Tidak perlu banyak mapel untuk membuat pendidikan
suatu bangsa menjadi lebih baik, terlebih lagi waktu kegiatan
belajar-mengajarnya juga tidak butuh waktu seharian. Setuju ga? Percayalah… itu
sangat melelahkan hehehe *maaf korban fullday
Selain
itu, di Negara-negara maju menganggap bahwa sekolah merupakan taman belajar
yang menyenangkan. Mereka menyukai
jurusan sejarah karena sangat menghargai para pendahulunya.
Subhanallah… saya
pribadi juga suka sejarah sih bikin penasaran gitu, terkadang geregetan
sendiri bila belajar sejarah tentang penjajahan, tapi yang membosankan tuh
kalau menghafalkan tahun-tahun kronologi terjadinya J
Sungguh,
jika dibandingkan dengan Indonesia, banyak yang bertentangan dengan realita
yang terjadi di kalangan pelajar pada umumnya. So, Kak Galih menegaskan,
“Jadilah anak muda berwawasan internasional yang membanggakan kearifan
lokal.” Kearifan lokal ini yang dimaksud berbagai macam aspek, misalnya
mencintai budaya nasional, tidak melupakan kontribusinya sebagai warga Negara
Indonesia, dan sebagainya. Remember! “Republik ini didirikan oleh
pemuda yang terdidik dan terpelajar.” Well, karena kita berada di
zaman millennial, sebagai generasi selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan
kualitas dan mempertahankan keberlangsungan bangsa ini. Jangan terlena dengan
mutakhirnya zaman now, kawan…. J
Okey, guys.. I think enough eaaaa. Sampai
berkunjung kembali di blog-blogku selanjutnya. Semoga bermanfaat! Jangan lupa like and comment yaa… J


Isinyaa bagussss. Banyak banyak sharing tentang pendidikan kakakk
RépondreSupprimerterima kasih atas dukungannya ^^
SupprimerAmazing :" Sangat menginspirasi.
RépondreSupprimerWah inspirasi bgt nih
RépondreSupprimerKeren dek .. lanjutkan terus menulisnya 👍
RépondreSupprimerInsya Allah, makasih kak ^^
Supprimer